Live Draw HK Result HK Unogoal Judi Slot Online Judi Slot
IDN POKER

Beberapa Wilayah Indonesia Terancam Banjir Mulai November 2020, Kementerian Pekerjaan Umum serta Perumahan Rakyat (PUPR) terus bersiaga hadapi pucuk musim hujan yang diprediksikan tiba mulai November 2020 sampai April 2021. Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR, Jarot Widyoko, Indonesia Terancam Banjir minta keterlibatan warga dalam tangani kekuatan banjir yang berlangsung di pucuk musim hujan kelak. Ditambah adanya kekuatan kenaikan curahan hujan untuk imbas dari kejadian La Nina.

“Ditambah lagi ke depan dengan perkiraan ada La Nina, intensif hujan bertambah 30-40 %. Menghadapi ini Kementerian PUPR tidak dapat sendiri, harus ada penyiapan, termasuk juga kesiagaan dari kementerian lainnya. Warga sendiri harus juga disosialisasikan serta tahu apakah yang dapat dilaksanakan sebelumnya berlangsung ini,” tambah ia dalam session teleconference.

Mencuplik perkiraan Tubuh Meteorologi, Klimatologi serta Geofisika (BMKG), Jarot sampaikan prediksi pucuk musim hujan di sejumlah wilayah di Indonesia. Sebagaimana untuk Kalimantan, yaitu di antara Desember 2020 sampai Januari 2021. Selanjutnya di Sulawesi, di mana intensif hujan paling tinggi akan berlangsung di Januari-April 2021. Lalu Sumatera di November 2020, Jawa dan Bali serta Nusa Tenggara di Februari 2021, Papua di Desember 2020, serta Maluku di Januari 2021.

Jarot menggarisbawahi bila beberapa wilayah makin riskan terserang banjir karena faktor-faktor, seperti makin sempitnya wilayah tangkapan banjir (catchment tempat) sampai perombakan saluran air (run off). Itu seluruhnya berlangsung karena perkembangan pembangunan serta jumlah warga yang semakin masif.

“Yang semula hujan turun masuk ke bumi, ada pembangunan rumah dan sebagainya tempat terganggu. Di saat hujan turun, ia tidak pernah masuk ke bumi sebab lapisannya telah diperkeras, paving, beton, dan sebagainya. Jadi hujan turun masuk di selokan serta itu tentu mengalir ke sungai,” katanya.

Cara Mengantisipasi Kementeria PUPR Yang lain

Menindaki keadaan itu, Kementerian PUPR dikatakannya sudah lakukan beberapa pembuatan seperti membuat bendungan sampai lakukan normalisasi sungai. Tetapi, semua usaha itu selalu tidak dapat mengatur banjir dengan maksimal, sebab tanah makin susah meresap air.

“Ini perlu keterlibatan ke seluruhnya stakeholder, dimulai dari yang sangat kecil saja. Kami harap jadi dorongan kepribadian, kita dorong ada satu moto yang akan kita gemakan ialah kembalikan air ke bumi. Siapa saja, dimulai dari seberapapun yang dapat kita kerjakan,” paparnya.

“Jika pada tingkat rumah buat sumur serapan. Pada tingkat RT buat kolam-kolam. Pokoknya tahanlah air hujan yang turun, kembalikan ke bumi, hingga seluruhnya warga jika berperan serta, pemda termasuk juga pusat, seluruhnya fokus turunkan koofisien run off yang ngalir ke sungai. Insya Allah ini akan berarti (pencet) debet air yang mengalir ke sungai,” tutur Jarot.

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *