" /> Berita Terbaru, Kabar Dunia Terkini Dan Terupdate 2019

Ditangkap Polisi, Kencing Berdiri Bikin Identitas Lucinta Luna Terungkap

Lucinta Luna ditangkap tim satnarkoba Polres Jakarta Barat, Selasa (11/2) pagi. Ia diamankan di apartemen Thamrin City, Jakarta, terkait dugaan kasus narkoba bersama tiga orang rekannya.

Lucinta Luna yang selama ini menutup rapat identitas dirinya, kali ini tak akan bisa mengelak lagi. Maklum, meski sudah banyak bukti yang mengarah bahwa dirinya lelaki, Lucinta Luna bak belut, selalu berkelit.

Berdasar keterangan beberapa polisi, Lucinta Luna sejak sampai di Mapolres Jakarta Barat menjadi guyonan. “Tadi siang dia sampai di sini. Kencingnya berdiri, ya,” kata salah seorang polisi lalu tertawa.

Lucinta Luna setelah diperiksa, dinyatakan positif Benzodiazepin, yakni obat penenang. sementara dua orang rekannya dinyatakan positif ramadol dan riklona.

“Satu lagi negatif,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Yusri Yunus, di kantornya.

Masih kata Yusri, dari ketiga rekannya Lucinta Luna yang ditangkap ada kekasih Lucinta Luna. “Yang dua staf LL dan satu lagi pacarnya,” ujarnya.

Lucinta Luna bersama tiga rekannya itu ditangkap berdasar laporan informasi dari masyarakat.

Ditemukan: Planet Bercincin 200 Kali Lebih Besar Dari Saturnus!

Sebenarnya planet J1407b dan cincinnya yang sebanyak 37 buah itu pertama kali ditemukan tahun 2012 silam oleh Pusat Observasi Leiden di Belanda dan Universitas Rochester di New York. Namun, publikasi dan pemetaan dari penemuan J1407b baru muncul baru-baru ini di arXiv.

“Bintang J1407 terlalu jauh untuk diobservasi secara teliti, namun kami bisa membuat model cincin J1407b dengan melihat perbedaan cahaya yang melewati lapisan cincin-cincin itu,” ujar Profesor Matthew Kenworthy dari Pusat Observasi Leiden, kepada Daily Mail (26/01/2015).

Cincin J1407b sendiri terdiri dari debu luar angkasa yang membentuk total 30 lapisan cincin kecil. Apabila seluruh debu tersebut disatukan, maka dapat terbentuk sebuah planet dengan berat yang sama dengan bumi, yakni sekitar 6,5 miliar triliun ton!

“Sampai kita menemukan objek ini di 2012 lalu, tidak ada yang menyadari sistem ini nyata. Ini merupakan formasi satelit bintang pertama yang kami tangkap dengan jarak skala jutaan kilometer mengelilingi objek sub-stellar,” kata Mamajek.

J1407b ditemukan oleh dua perangkat optik yang masing-masing memiliki 8 kamera

Astronom menemukan J1407b dengan dua perangkat optik yang masing-masing memiliki 8 kamera. Dengan cara itu, astronom bisa mengamati saat cincin J1407b menyebabkan peredupan cahaya bintangnya.

Biasanya, astronom hanya menjumpai peredupan atau gerhana bintang akibat adanya planet yang melintas di mukanya dalam waktu singkat. Namun, dengan besarnya ukuran cincin J1407b, gerhana yang disebabkannya mencapai 56 hari.

Gerhana akibat 30 cincin milik J1407b unik karena densitas cincin yang berbeda. Pada bagian cincin yang berdensitas rendah, cahaya bintang dapat menembus.

Seperti pada Saturnus, J1407b juga memiliki gap antarcincin. Astronom menduga, di sana terdapat banyak bulan. Saturnus sendiri menyimpan 60 bulan. Bila cincinnya saja besar, maka planetnya tentu juga besar.

Akan tetapi, ahli astronomi memprediksi bila cincin planet J1407b akan semakin menipis dalam beberapa juta tahun mendatang sebelum akhirnya lenyap dan akhirnya membentuk ‘Bulan’ untuk mengorbit planet tersebut. Maka julukan planet dengan cincin yang sangat besar sebagai “Lord of the Rings”, suatu saat akan berakhir.

Tentara di Thailand yang Berondong Tembakan di Mal Ditembak Mati

Jakrapanth Thomma, tentara di Thailand berpangkat sersan mayor ditembak mati pasukan komando usai melakukan penembakan secara brutal di sebuah mal. Sebanyak 20 orang tewas dalam peristiwa ini.

Seperti dilansir AFP, Minggu (8/2/2020), pelaku bersembunyi di sebuah mal setelah hampir 17 jam menyebabkan kota Nakhon Ratchasima mencekam. Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah warga yang masih terperangkap di dalam mal ketika pelaku sepanjang malam bersembunyi.

Dalam upaya melumpuhkan pelaku, terdengar tembakan-tembakan ketika pasukan komando Thailand mengepung mal tersebut saat masuk waktu fajar. Beberapa jam setelahnya, dinas keamanan Thailand menyerbu lantai dasar dan membebaskan puluhan pembeli yang terkejut amukan berdarah tentara tersebut.

“Dia ditembak mati tiga puluh menit yang lalu (200 GMT), ” kata kepala Divisi Penindasan Kejahatan Jirabhob Bhuridej kepada AFP.

Seorang juru bicara polisi menambahkan, komando dari unit elit polisi Thailand yang berhasil melumpuhkan pria bersenjata itu, setelah operasi yang melibatkan ratusan personel keamanan.

“Korban tewas resmi adalah 20 dan terluka 42, sembilan dalam operasi,” ujar seorang dokter Korat, Narinrat Pitchayakamin, mengatakan kepada wartawan, merevisi jumlah kematian awal 21.

Wakil Perdana Menteri Anutin Charnvirakul mengatakan, dalam kejadian ini, seorang perwira polisi yang ambil bagian dalam serangan melumpuhkan pria bersenjata tersebut dilaporkan tewas.

“Dia telah dipukul dan sayangnya, dia tidak bisa melakukannya,” kata Anutin.

Bibi Kim Jong-un Kembali Tampil di Hadapan Publik Setelah ‘Menghilang’ 6 Tahun

Bibi berpengaruh pemimpin Korea Utara Kim Jong-un tampil di depan publik untuk pertama kalinya, menurut laporan media pemerintah pada hari Minggu (26/1), bertahun-tahun setelah suaminya dieksekusi dalam pembersihan. Laporan itu dilansir oleh kantor berita Reuters.

Kim Kyong Hui adalah saudara perempuan mantan diktator Korea Utara Kim Jong Il, dan berperan utama selama tahun-tahun pertama pemerintahan pemimpin saat ini Kim Jong-un.

Dia menghilang dari pandangan publik sejak 2013, setelah Kim Jong-un memerintahkan eksekusi terhadap suaminya, Jang Song Thaek, yang ketika itu dipandang sebagai pria paling kuat kedua di Korea Utara.

Pada hari Minggu, media pemerintah menunjukkan Kim Kyong Hui duduk di dekat Kim Jong-un pada sebuah pertunjukan untuk merayakan Tahun Baru Imlek di Pyongyang.

Kim Kyong Hui dan suaminya pernah menjadi pasangan yang kuat yang membentuk semacam lingkaran di dunia politik Korea Utara, di belakang pemimpin muda yang menggantikan ayahnya pada Desember 2011.

“Kemunculan tiba-tiba pejabat penting dalam rezim seperti Korea Utara selalu sangat penting,” kata Michael Madden, pakar kepemimpinan Korea Utara di pusat penelitian Stimson Center yang berbasis di Washington, DC.

Kemunculan kembali Kim Kyong Hui dalam posisi yang menonjol menunjukkan dia telah mempertahankan, atau setidaknya memeproleh kembali pengaruh di balik layar, ujar Oliver Hotham, redaktur pelaksana NK News, sebuah organisasi di Seoul yang memantau Korea Utara.

Swiss Ungkap Dugaan Mata-Mata Rusia Yang Menyamar Jadi Tukang Ledeng

Swiss pada Selasa 21 Januari 2020 mengungkapkan tentang upaya menggagalkan operasi mata-mata yang tampaknya dilakukan oleh Rusia di Davos, tempat pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF).

Laporan di surat kabar Tages-Anzeiger mengatakan kedua orang Rusia diperiksa oleh polisi Swiss pada Agustus tahun lalu di resor ski, yang menjadi tuan rumah pertemuan WEF yang diikuti pengusaha global dan elit politik minggu ini. Dua orang yang diperiksa itu disebut sebagai tukang ledeng. Anehnya media tersebut melaporkan dua orang itu menunjukkan paspor diplomatik dan meninggalkan negara itu.

Polisi di wilayah Grisons Swiss timur mengatakan dua pria dengan paspor diplomatik Rusia telah menjadi subjek pemeriksaan identitas rutin di Davos pada Agustus 2019, tetapi tidak ada hubungan yang telah dibuat antara kunjungan mereka dan WEF.

“Memang benar bahwa kami memeriksa dua warga Rusia di Davos dan mereka mengidentifikasi diri mereka dengan paspor diplomatik, tetapi kami tidak dapat memastikan alasan untuk menahan mereka. Mereka diizinkan pergi, ”kata seorang jurubicara kepolisian canton, seraya menambahkan polisi tidak pernah mengidentifikasi orang-orang itu sebagai tukang ledeng.

Seorang juru bicara kedutaan Rusia di Bern menolak laporan itu, mengatakan dua diplomat Rusia yang terakreditasi di luar Swiss telah diperiksa dan diizinkan untuk melanjutkan perjalanan.

“Paspor diplomatik diberikan kepada pejabat tinggi, bukan pekerja kasar,” katanya. “Aku pikir ini mungkin lelucon konyol.”

Maria Zakharova, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia di Moskow, mengatakan dia tidak mengetahui insiden itu.

Manajer dana investasi Bill Browder, yang telah memimpin kampanye untuk mengekspos korupsi dan menghukum pejabat Rusia yang ia tuduh di balik kematian pengacaranya, Sergei Magnitsky, yang meninggal di penjara Moskow pada 2009, mengatakan insiden yang diduga menunjukkan jangkauan negara Rusia.

“Rusia secara aktif menargetkan semua musuh mereka di semua negara yang berbeda – mereka memiliki sumber daya yang besar dan Davos adalah tempat yang penting, dan ini adalah satu-satunya tempat yang bisa saya datangi dan secara pribadi menantang para pejabat Rusia atas pembunuhan Sergei Magnitsky,” kata Browder kepada Reuters di Davos pada hari Selasa.

Jelang Sidang Pemakzulan, Kubu Trump Pakai Argumen Lawas

Jakarta,  Indonesia — Alan Dershowitz, kuasa hukum Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bakal menggunakan argumen hukum yang dipakai oleh mantan Presiden Andrew Johnson ketika dimakzulkan pada 1868. Saat itu kuasa hukum Johnson, Benjamin Curtis, menyatakan keberatan karena penyelidikan proses pemakzulan terhadap kliennya tidak didasarkan atas tuduhan melakukan tindak kejahatan.

“(Curtis) berpendapat kepada Senat bahwa penyelidikan seperti tindak kejahatan diperlukan. Argumen itu bertahan. Saya akan mengajukan pendapat seperti itu sebagai tim kuasa hukum presiden. Itu peran saya dan sudah jelas,” kata Dershowitz yang juga seorang profesor hukum konstitusi dari Sekolah Hukum Harvard, seperti dilansir CNN, Senin (20/1).

Dershowitz mengatakan karena tuduhan yang disampaikan Dewan Perwakilan kepada Trump dianggap bukan penyelidikan atas perbuatan kejahatan, maka tidak diperlukan menghadirkan saksi. Jika argumen ini diloloskan, maka dia mengatakan sidang di Senat tidak perlu dilanjutkan.

berupaya menghalangi Kongres. Ia diduga sengaja menahan bantuan pertahanan untuk Ukraina sebesar US$391 juta pada Juli hingga September 2019.

Hal itu dilakukan diduga untuk menekan Presiden Ukraina, Volodymyr Zlenskiy agar mengabulkan permintaan Trump mengusut dugaan korupsi mantan anggota dewan komisaris perusahaan energi Burisma, Hunter Biden.

Hunter merupakan anak calon presiden Partai Demokrat Joe Biden yang akan menjadi rival Trump dalam Pemilu November mendatang. Trump diduga melakukan upaya tersebut untuk menjegal Biden.

Disamping itu, Trump juga dituduh menghalangi Kongres dengan tidak memberikan akses dokumen kepada panitia khusus. Ia memerintahkan orang-orang yang dipanggil DPR untuk tidak hadir.

Dershowitz mengatakan tuduhan menghalangi Kongres dan penyalahgunaan kekuasaan tidak termasuk dalam kriteria perbuatan presiden yang bisa dimakzulkan. Menurut undang-undang dasar AS, presiden bisa dimakzulkan jika berkhianat, menerima atau memberi suap dan melakukan tindak kejahatan dan pelanggaran sikap tingkat tinggi lainnya.

Meski begitu, konstitusi AS tidak merinci apa yang dimaksud dengan tindak kejahatan dan pelanggaran sikap tingkat tinggi.

Sedangkan menurut pakar hukum konstitusi Harvard, Prof. Noah Feldman, mengatakan yang dimaksud tindak kejahatan dan pelanggaran sikap tingkat tinggi adalah penyalahgunaan jabatan presiden demi keuntungan pribadi atau untuk melakukan korupsi terhadap proses pemilihan, atau membahayakan keamanan nasional AS. Menurut dia, presiden bisa dimakzulkan meski tidak melakukan kejahatan.

Sidang perdana pemakzulan Trump akan mulai digelar di Senat pada Selasa besok. Senat kemungkinan akan terlebih dulu menghadirkan kuasa hukum presiden dan sejumlah saksi, sebelum memanggil Trump.

Inilah Alasan Kenapa Tidak Ada Korban dalam Serangan Rudal Iran

Sekitar delapan jam sebelum serangan rudal Iran terhadap pasukan Amerika di pangkalan-pangkalan di Irak pada 8 Januari 2020 lalu, tentara Amerika dan Irak di pangkalan udara Ain al-Asad telah bergegas untuk memindahkan personel dan persenjataan ke bunker. Hal ini menunjukkan Amerika telah mendapat peringatan akan adanya serangan.

Dua perwira Irak yang ditempatkan di pangkalan itu mengatakan kepada Reuters menjelang tengah malam, tidak satu pun jet tempur atau helikopter berada di tempat terbuka.

Sumber intelijen Irak tersebut mengatakan pasukan Amerika bahkan tampaknya mengetahui waktu serangan, dengan mengatakan mereka tampaknya “sangat sadar” pangkalan itu akan diserang “setelah tengah malam.”

Ketika rudal-rudal itu akhirnya mendarat sekitar pukul 01.30 pagi, mereka menembaki “tempat kosong yang telah dievakuasi beberapa jam sebelumnya,” kata sumber intelijen. Tidak ada yang terluka atau terbunuh. Laporan ini menambah bukti bahwa Iran gagal menyimpan rahasia tentang rencana serangan.

Setelah rudal itu mendarat, beberapa outlet media utama Amerika mengutip para pejabat mengatakan serangan itu tidak lebih dari tembakan peringatan, yang menunjukkan Iran memenuhi janjinya untuk membalas dendam setelah serangan udara Amerika pada 3 Januari yang menewaskan seorang jenderal Iran. Iran memang tidak mengambil banyak risiko memprovokasi serangan Amerika lebih lanjut.

Yang lain, mengutip sumber-sumber Amerika dan Arab, melaporkan bahwa Iran memperingatkan Irak sebelum serangan itu dan bahwa Irak telah menyampaikan informasi itu ke Amerika Serikat.

Namun, pada hari Jumat, para pejabat tinggi Amerika menolak narasi itu. Menteri Luar Negeri Amerika Mike Pompeo mengatakan kepada wartawan “tidak diragukan” bahwa Iran memiliki “niat penuh” untuk membunuh personel Amerika.

Hal itu memperkuat komentar sebelumnya dari Mark Milley, ketua kepala staf gabungan, yang memuji intelijen Amerika hingga mendapat informasi aka nada serangan dari Teheran yang memungkinkan pasukan Amerika untuk menghindari korban.

Kebingungan yang sedang berlangsung tentang niat Teheran membuatnya menjadi jauh lebih sulit untuk menilai seberapa serius sebenarnya serangan terhadap pasukan Amerika.

Pernyataan yang saling bertentangan dari para pejabat Iran hanya menambah ketidakpastian. Bahkan ketika TV pemerintah Iran mengklaim serangan itu menewaskan puluhan tentara Amerika dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menyatakan hal ini “belum cukup” , Menteri Luar Negeri Mohammed Javad Zarif segera berkicau di Twitter bahwa Iran telah “melaksanakan” pembalasannya dan ” tidak mencari eskalasi atau perang. ”

Amir Ali Hajizadeh, kepala Angkatan Udara Garda Revolusi Iran dikutip dalam media pemerintah mengatakan, “Kami tidak berniat untuk membunuh. Kami bermaksud untuk memukul mesin militer musuh. ”Namun Hajizadeh mengulangi klaim bahwa serangan itu telah membunuh tentara Amerika.

Seorang penasehat Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi mengatakan kepada Reuters bahwa Iran tidak secara langsung memberi tahu Irak sampai sesaat sebelum serangan rudal – tetapi mengatakan Iran mengeluarkan peringatan melalui negara-negara lain.

Penasihat itu mengatakan Irak dan Amerika Serikat diperingatkan tentang serangan yang akan datang oleh satu negara Arab dan satu negara Eropa tetapi menolak menyebutkan nama mereka.

Dan siapa yang memperingatkan negara-negara itu? “Iran, tentu saja,” kata penasihat itu. “Iran sangat ingin agar Amerika dan Irak menyadari serangan sebelum mereka terjadi.”

Kementerian Luar Negeri Iran menolak berkomentar, dan delegasinya ke PBB di New York tidak menanggapi permintaan. Kantor perdana menteri Irak dan juru bicara militer tidak menanggapi permintaan komentar. Gedung Putih juga menolak berkomentar.

Iran menembakkan sedikitnya 22 rudal ke Ain al-Asad dan pangkalan lain di dekat kota Erbil, Kurdi Irak utara yang juga menampung pasukan Amerika.

Di pangkalan Ain al-Asad yang luas di gurun Anbar barat Irak pada hari Senin, tim Angkatan Udara dan Angkatan Darat Amerika membersihkan tumpukan puing logam dan beton dari lapangan terbang dan di sekitar bunker menggunakan buldoser dan truk pickup.

Satu rudal jelajah telah merobohkan lebih dari sejumlah dinding dan membakar kontainer yang digunakan sebagai ruang hidup oleh tentara Amerika. Rudal lain menghancurkan dua hanggar yang biasanya menampung helikopter Blackhawk, meledakkan kantor-kantor di dekatnya dan menyebabkan kebakaran bahan bakar yang berlangsung berjam-jam, kata tentara AS.

 

Iran Kembali Gempur Pangkalan AS Di Irak, Kali ini Pakai Roket

Roket Katyusha diatas bak terbuka banyak digunakan milisi Syiah untuk menggempur ISIS.

Iran kembali melakukan serangan ke pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Irak. Entah apa yang dimaui oleh negara Syiah ini, serangan pertama mereka yang gagal dan menimbulkan “collateral damage” korban sipil malah bikin serangan lagi pada Minggu (12/1/2020)

Serangan terbaru Iran ini menggunakan 8 roket tipe Katyusha yang diluncurkan dari mobil ke Pangkalan Al-Balad di Utara Baghdad. Serangan dilakukan oleh milisi Syiah yang dibackup oleh Iran. Empat prajurit Irak yang berada di lokasi dilaporkan terluka.

Pangkalan Al-Balad adalah basis udara pesawat F-16 milik AU Irak. Pesawat ini dibeli dari AS untuk meningkatkan kapasitas militer udara negara itu. AS sendiri hanya punya sedikit prajurit di sana untuk membackup operasi melawan ISIS dan beberapa instruktur untuk merawat F-16. Namun sejak ketegangan dengan Irak meningkat, para parsonel AS telah ditarik ke Irbil, ibukota Kurdistan.

“Sekitar 90 persen penasihat AS, dan karyawan Sallyport dan Lockheed Martin yang menjadi spesialis pemeliharaan pesawat telah ditarik ke Taji dan Irbil setelah ancaman (Iran),” jelas sumber militer tersebut.

“Saat ini hanya tersisa tak lebih dari 15 tentara AS dan satu pesawat di Al-Balad,” tambah sumber itu lagi.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengutuk serangan rudal yang kembali menghantam basis tentara mereka di pangkalan militer Irak.

“Ini pelanggaran terus-menerus atas kedaulatan Irak oleh kelompok-kelompok yang tidak loyal kepada pemerintah Irak dan ini harus diakhiri,” katanya.

Trump Pilih Mundur dari Perang Melawan Iran

Presiden Donald Trump memilih langkah mundur dari rencana aksi militer baru terhadap Iran setelah serangan rudal pada pangkalan Irak yang jadi basis militer Amerika, namun dia meyakinkan akan memberi sanksi lebih keras kepada Iran.

Para pejabat Trump dan Iran berusaha meredakan krisis yang pada mengancam akan memicu konflik terbuka setelah pembunuhan seorang jenderal terkemuka Iran di Irak pada 3 Januari dalam serangan pesawat tak berawak diikuti oleh serangan balasan Iran.

Namun kedua belah pihak akhirnya mundur dari jurang perang, setelah Arab dan para pemimpin internasional lainnya menyerukan Amerika dan Iran menahan diri. Di Irak, kelompok-kelompok Muslim Syiah, menentang kehadiran Amerika di Irak, juga berupaya mendinginkan protes.

“Kenyataan bahwa kita memiliki peralatan dan militer yang hebat tidak berarti kita harus menggunakannya. Kami tidak ingin menggunakannya, “kata Trump sebagaimana dilaporkan Reuters Kamis 8 Januari 2020.

Hal itu diambil setelah mengatakan rudal balistik Iran yang ditembakkan pada dini hari Rabu tidak menyebabkan korban dan kerusakan terbatas.

Dia mengatakan Iran “tampaknya mundur, yang merupakan hal yang baik untuk semua pihak yang berkepentingan” tetapi dia mengatakan Amerika Serikat akan menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Iran, menambah langkah-langkah yang telah memangkas ekspor minyaknya dan melumpuhkan ekonominya.

Komentarnya itu dikeluarkan beberapa jam setelah menteri luar negeri Iran mengatakan serangan rudal Iran sebagai tanggapan terhadap pembunuhan Qassem Soleimani, seorang jenderal kuat yang mendalangi upaya Iran untuk membangun pasukan proxy di luar negeri.

Menteri itu, Javad Zarif, mengatakan di Twitter bahwa Iran tidak “mencari eskalasi atau perang, tetapi akan membela diri terhadap segala agresi”.

Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei menyebut serangan rudal Iran sebagai “tamparan di wajah” untuk Amerika Serikat dan mengatakan Iran tetap bertekad untuk mengusir pasukan Amerika keluar dari wilayah itu, kebijakan yang menurut para analis telah dikejar melalui pasukan proxy.

Namun Washington mengatakan memiliki indikasi bahwa Teheran mengatakan kepada sekutunya akan menahan diri dari aksi baru terhadap pasukan Amerika.

Wakil Presiden A.S. Mike Pence mengatakan kepada CBS News bahwa Amerika Serikat menerima data intelijen yang menyebutkan Iran mengirim pesan kepada milisi sekutunya untuk tidak menyerang target Amerika.

Moqtada al-Sadr, seorang ulama berpengaruh Syiah yang menentang Amerika dan campur tangan Iran di Irak, mengatakan krisis Irak telah berakhir dan menyerukan “faksi-faksi Irak untuk bermusyawarah, sabar, dan tidak memulai aksi militer”.

Kataib Hezbollah, milisi yang didukung Iran mengatakan di tengah-tengah kondisi ini, hasrat untuk mencapai hasil yakni mengusir pasukan Amerika harus dihindari.

Itu bertolak belakang dengan komentar berapi-api pada Rabu pagi dari Qais al-Khazali, pemimpin milisi lain dukungan Iran, yang mengatakan pasukan Irak harus menanggapi pembunuhan Abu Mahdi al-Muhandis, yang meninggal bersama Soleimani dalam serangan 3 Januari.

Negara-negara Arab, yang terletak di seberang Teluk dari Iran dan khawatir wilayah mereka terseret ke dalam konflik lain, juga menyerukan agar para pemimpin yang lebih dingin.

“Negara persaudaraan Arab Irak saat ini membutuhkan solidaritas di antara rakyatnya untuk menghindari perang dan menjadi situs pertempuran di mana ia akan kehilangan sangat besar,” kata Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan menulis di Twitter.

Dalam pidato Trump pada hari Rabu, ia mengulangi janjinya untuk tidak mengizinkan Iran mendapatkan senjata nuklir dan menyerukan kekuatan dunia untuk keluar dari perjanjian nuklir 2015.

Trump mengatakan kekuatan dunia harus merundingkan perjanjian nuklir baru dengan Iran untuk menggantikan yang ditetapkan di bawah Barack Obama.

Iran telah menolak pembicaraan baru dan mengatakan negosiasi tidak dapat dilakukan tanpa pengakhiran sanksi yang telah membuat mata uang Iran anjlok dan memangkas pendapatan minyak vital.

Iran Gunakan Rudal Fateh 110 Buatan Sendiri Dalam Serangan Balas Dendam

Iran benar-benar nantang perang bukan hanya pada Amerika Serikat tapi pada semua sekutunya. Dua gelombang serangan rudal tidak hanya menyasar pangkalan militer AS tapi juga pangkalan militer pasukan Koalisi Internasional.

Ada dua pangkalan militer yang jadi sasaran, yaitu Pangkalan Ayn Al-asad di Western Irak dan Pangkalan di Irbil.

Rudal Fateh 110 ini mulai masuk ke militer Iran pada 2002. Pada 2017 Rudal ini sudah mencapai upgrade generasi ke-4 dengan akurasi tembakan yang lebih baik.

Rudal ini bisa diluncurkan dari sebuah truk atau dari daratan. Suriah mengakui telah menggunakan rudal ini selama perang sipil menghadapi pemberontak.

Sedangkan Israel menuding pasukan Hizbullah juga menggunakan rudal ini selama perang Israel-Lebanon pada 2006. Israel juga menuding pejuang Hamas di Jalur Gaza telah memiliki rudal ini.

Pantes banyak yang sukses masuk sasaran, ternyata Rudal Fateh 110 ini sudah “battle proven“.