Slot Online
Result HK
Nowgoal
Judi Slot Online
Judi Slot
IDN Poker
Situs Judi Online
Live Draw HK
Live Draw HK
Live Draw SGP
Live Draw Sydney
Live Draw HK

Sesusah Itu Donald Trump Terima Kekalahan?, Dengan kalahnya dalam pemilu Amerika Serikat tahun ini Donald Trump jadi figur yang sejauh ini sering ia berikan ke beberapa kompetitornya: pecundang. Tim Partai Republik saat ini sedang ajukan tuntutan hukum di beberapa negara sisi yang kompetisinya ketat.

walau sampai sekarang beberapa advokat mereka belum juga memberi bukti signifikan mengenai berlangsungnya manipulasi serta beberapa pemerhati memandang pengadilan dapat dengan gampang menampik tuntutan mereka. Di lain sisi beberapa pakar mental serta akademiki melihat, naiknya Trump ke pucuk kekuasaan dengan karakternya yang condong otoriter membuat ia nyaris mustahil terima kekalahan secara cantik dari kompetitornya, Joe Biden.

Keadaan ini, menurut beberapa pakar dapat membuat kondisi negeri setelah pemilu saat sebelum pengukuhan Biden Januari kelak jadi penuh kekhawatiran.

Ruth Ben-Ghiat, profesor riwayat dari Kampus New York menjelaskan ke AFP, Trump pengin membuat mode cara memimpin otoritarian dalam jalankan bangku kepresidenan berdasar “angkuhsi, beringasitas, serta inspirasi jika ia selalu harus dibela dari musuh-musuhnya.”

“Benar-benar gampang untuk mengakui pemilu ini semua prosesnya ialah manipulasi dibandingkan terima fakta jika peraturan ia membuat orang malah melawannya serta itu telah cukup buat membuat ia kalah,” tutur Ben-Ghiat yang akan mengeluarkan buku anyarnya: “Strongmen: Mussolini to the Present.”

Ditinggal simpatisan

“Kita harus benar-benar siaga untuk memperhitungkan apa yang akan ia kerjakan secara semangat mendendam dalam beberapa waktu di depan.”

Simpulan seperti itu dikatakan John Gartner, psikiater asal Baltimore yang bersama beberapa pakar mental lain telah mengingatkan jika Trump ialah figur “narsis yang jahat”. Orang dengan watak jenis ini, kata Erich Fromm, sering menunjukkan narsisnya, antisosial, masalah personalitas, paranoid, serta sadisme.

Gartner menjelaskan ia cemas Trump masih usaha memburu kemauannya dengan semua jenis langkah untuk menangani kalahnya. Tetapi ia memandang si presiden sekarang telah semakin ditinggal oleh beberapa pendukungnya.

Untuk Mary Trump, sepupunya yang sering cukup vocal mengomentari ia, keputusan Trump yang mengatakan dianya selaku juara pemilu serta mendakwa rivalnya melakukan perbuatan nakal ialah wujud keputusasaan serta ia tidak terlatih dengan keadaan itu.

“Donald tidak pernah pada keadaan di mana ia tidak ada yang membelanya, tidak ada yang ingin selamatkannya,” kata Mary yang seorang psikiater medis serta sempat menulis satu memoar mengenai Trump.

Produk ayahnya

Dalam bukunya ia menyebutkan Trump ialah produk dari ayahnya, Fred Trump, “sosiopat” yang membuat situasi kehidupan rumah tangga yang traumatis serta penuh kekerasan.

Trump membuat citranya selaku figur juara di dunia real estate New York dan di acara The Apprentice yang menunjukkan ia selaku figur pebisnis bernaluri tajam walau beberapa perusahaannya alami kemunduran.

Pada 2015 ia populer dengan perkataannya yang menjuluki senator John McCain “pecundang” serta memberi komentar masalah veteran Vietnam serta bekas tahanan perang dengan kalimat “Saya lebih senang tentara yang tidak ketangkap.”

Beberapa minggu saat sebelum pemilu, Trump menjelaskan ke beberapa pendukungnya di Georgia, Biden ialah “calon paling buruk dalam riwayat politik kepresidenan.” “Dapat Anda pikirkan jika saya kalah atas ia?” umbar Trump sambil menambah, “Kemungkinan saya harus tinggalkan negeri ini?”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *