Deklarasi Amerika Serikat berkenaan kematian Abu Bakr al-Baghdadi mengakibatkan sinyal tanya tentang sosok pengganti yang akan mewarisi takhta kepemimpinan ISIS.

Meski belum terkonfirmasi, kabar kematian ini mengakibatkan banyak pihak kian menyangsikan kemampuan ISIS, lebih-lebih AS mengklaim bahwa tangan kanan Bagdhadi, Abu Hassan al-Muhajir, juga tewas di dalam satu serangan lainnya.

Seorang ahli ISIS di Irak, Hisham al-Hashemi, menyatakan bahwa dengan klaim beruntun ini, daftar nama pengganti Baghdadi kini mengerucut terhadap dua orang, yaitu Abu Othman al-Tunsi dan Abu Saleh al-Juzrawi alias Hajj Abdullah.

Tunsi menjabat sebagai ketua Dewan Syura ISIS, sementara Juzrawi merupakan anggota Komite Delegasi atau badan eksekutif group militan tersebut.

Namun, Hashemi menganggap ke dua sosok ini tidak kuat karena Tunsi berkebangsaan Tunisia dan Juzrawi merupakan warga Arab Saudi. Dengan latar belakang tersebut, mereka tidak paham betul jaringan gerilya ISIS.

“Ini mampu mengarah terhadap pembelotan,” ucap Hashemi kepada AFP.

Meski demikian, Aymenn Jawad Tamimi, seorang akademisi dan ahli masalah jihadis, juga menganggap Hajj Abdullah sebagai tokoh yang berpotensi menukar Baghdadi.

“Dalam sejumlah dokumen ISIS yang bocor, ia disebut-sebut sebagai wakil Baghdadi dan setahu saya, dia belum tewas,” tutur Tamimi.

Ia sesudah itu berkata, “Selain sejumlah teks yang menyebut Hajj Abdullah, tak banyak yang diketahui berkenaan dia jikalau ia adalah Emir Komite Delegasi yang merupakan badan pemerintahan ISIS.”

Teror rumor

Di tengah bermacam sinyal tanya ini, sejumlah rumor beredar bahwa seorang figur ISIS lainnya yang dulu dibui dengan Baghdadi, Abdullah Qardash, udah ditunjuk sebagai pewaris takhta.

Ia lebih-lebih disebut-sebut udah dipilih sebelum Presiden Donald Trump mendeklarasikan kematian Baghdadi.

Namun, Tamimi dan Hashemi segera mematahkan rumor itu. Merujuk terhadap sejumlah sumber intelijen Irak, Hashemi menyatakan bahwa Qardash udah tewas sejak 2017 lalu.

“Putri Qardash sekarang tengah ditahan intelijen Irak. Dia dan kerabatnya mengonfirmasi bahwa Qardash tewas terhadap 2017,” ucap Hashemi.

Walau Qardash masih hidup, kata Hashemi, pria Turkmenistan itu tak layak menjadi pemimpin ISIS karena bukan Quraysh, suku keturunan nabi.

Tak masalah

Siapapun pengganti Baghdadi, ia perlu mampu memimpin ISIS yang kian terpuruk sesudah serangan bertubi-tubi bermacam koalisi internasional.

Dengan kematian Baghdadi ini, ada mungkin ISIS akan tambah hancur karena militan tak kembali bersumpah setia terhadap pemimpin baru.

“Afiliasi ISIS berpeluang berubah aliansi atau tidak berbaiat kembali terhadap pengganti Baghdadi,” ujar peneliti dan ahli jihad, Nate Rosenblatt.

Kendati demikian, profesor ilmu politik dari Northeastern University, Max Abrahms, menganggap barang siapa penerus Baghdadi tak akan berpengaruh terhadap operasi ISIS di lapangan.

Menurut Abrahms, proses operasi ISIS tak seperti Al Qaidah di bawah pimpinan Osama Bin Laden. ISIS sepanjang ini menggerakkan proses operasi tak terpusat.

“Ketika Bin Laden tewas, pertanyaan berkenaan siapa yang menggantikannya lebih relevan karena Bin Laden lebih mengendalikan Al Qaidah ketimbang Baghdadi di ISIS,” tutur Abrahms.

Charlie Winter, peneliti dari King’s College, London, juga mengamini pengakuan Abrahms. Menurutnya, ISIS menerapkan struktur birokrasi terbuka agar mereka tak terlalu kewalahan dikala pemimpin hilang.

“Kelompok jihadi itu mungkin akan bertahan atau lebih kuat lewat kehilangan pemimpin jikalau mereka punya proses birokrasi dan struktur,” kata Winter.

Menutup pernyataannya, Winter berkata, “Hanya sedikit yang menerapkan proses birokrasi dan struktur seperti ISIS, menjadi saya kira mereka justru akan lebih kuat, bukan terpecah.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *